Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi kemunculan 160 titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Riau. Angka ini menunjukkan peningkatan drastis seiring dengan masuknya musim kemarau di sebagian besar wilayah Sumatera. Bahkan, konsentrasi titik panas paling banyak berada di daerah-daerah yang memiliki lahan gambut luas.
Kondisi cuaca yang panas dan kering memicu kekhawatiran akan terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Oleh karena itu, BMKG meminta pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra. Langkah pencegahan sejak dini menjadi sangat krusial agar sebaran api tidak meluas ke pemukiman warga.
Sebaran Titik Panas di Berbagai Kabupaten
Tim satgas darat kini memantau secara intensif beberapa titik koordinat yang menunjukkan suhu permukaan sangat tinggi. Sebab, beberapa kabupaten seperti Bengkalis, Pelalawan, dan Indragiri Hilir mencatatkan jumlah titik panas yang cukup signifikan. Selain itu, arah angin yang kencang berpotensi membawa asap menuju pusat kota jika kebakaran terjadi.
Akibatnya, jarak pandang di beberapa wilayah berisiko menurun jika petugas tidak segera memadamkan sumber api. Namun, tim gabungan TNI, Polri, dan Manggala Agni sudah bersiaga penuh di lokasi-jalur rawan. Selanjutnya, patroli udara menggunakan helikopter terus memantau area yang sulit terjangkau lewat jalur darat.
Imbauan BMKG dan Larangan Membakar Lahan
Baca juga:Polda Riau Gelar Operasi Keselamatan 2026
BMKG menegaskan bahwa cuaca ekstrem ini akan berlangsung selama beberapa pekan ke depan. Bahkan, curah hujan di wilayah Riau kini berada pada kategori sangat rendah. Oleh sebab itu, masyarakat dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar karena risiko perambatan api sangat cepat.
“Kami mendeteksi 160 titik panas hanya dalam waktu singkat. Oleh karena itu, sinergi semua pihak sangat kami butuhkan untuk mencegah bencana kabut asap terulang kembali,” tegas prakirawan BMKG Pekanbaru.
Selanjutnya, pemerintah daerah akan memperketat pengawasan terhadap aktivitas perusahaan perkebunan di sekitar kawasan hutan. Dengan demikian, setiap pelanggaran hukum terkait pembakaran lahan akan mendapatkan sanksi yang sangat tegas.
Langkah Antisipasi Satgas Karhutla
Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Riau kini mulai menyiapkan sarana dan prasarana pemadaman secara maksimal. Sebab, ketersediaan sumber air di lokasi rawan menjadi kunci suksesnya operasi pemadaman di lapangan. Oleh karena itu, pembuatan sekat kanal terus berjalan di wilayah-wilayah yang berisiko tinggi.
Berikut adalah beberapa langkah utama dalam menghadapi lonjakan titik panas ini:
-
Patroli Terpadu: Melibatkan personil gabungan untuk memantau aktivitas warga di pinggiran hutan.
-
Modifikasi Cuaca: Mengkaji peluang hujan buatan jika kondisi kekeringan terus memburuk.
-
Sosialisasi Bahaya Karhutla: Memberikan edukasi kepada warga mengenai dampak kesehatan dari kabut asap.
Sebagai tambahan, BMKG akan terus memperbarui data satelit setiap enam jam sekali. Sebagai penutup, kewaspadaan kolektif menjadi kunci utama dalam menjaga langit Riau tetap biru tanpa asap. Dengan demikian, potensi kerugian lingkungan dan ekonomi dapat kita tekan sekecil mungkin.





